menunggu bulan sinarkan langit
di malam waktu ,
tidak selalunya menunggu tibanya cahaya menembusi,
siulan semut merah lebih kuat dari suasana disebelah,
kita sama-sama membuntu angin meniupkan bibir
agar terus pantas bergetar membuahkan bicara,
berlari mengejar lalu kita pun bergolek ,
merebut pasir membentuk istana
khayalan terus kita kesana lagi,
mengatakan segala kecelaruan ,
mencantikkan segala keserasiaan
yang mampu untuk utuhkan,
tali yang diikatkan pada sampan di tepi belokan itu,
terbuka dan dijalinkan dengan setiap keinginan kita,
Melupakan kensenyapan yang sementara,
No comments:
Post a Comment